Basic KnowledgeFeatured

Menjadi Audiophile untuk Merasakan Eargasm

Hah, orang hobi ngulik audio? Ada banget pastinya! Sebelum baca artikel ini lebih lanjut, coba lo inget lagi apakah lo suka dengerin musik, lalu apakah lo udah sering jajan sesuatu yang berhubungan tentang audio? Dan apakah lo sering ngerasa kurang puas pas dengerin sebuah lagu dan selalu pengen jajan biar kuping lo merasakan eargasm? Kalo semua hal itu udah lo rasain, selamat lo adalah seorang audiophile!

Terus, apa sih audiophile itu? Kalau dari namanya aja kita pasti membayangkan beberapa benda yang familiar, speaker, headset, earphone, dan headphone. Mungkin tanpa disadari kita nggak bisa hidup tanpa alat tersebut. Tanpa disadari sebenarnya peranti audio mungkin jadi barang yang nggak bisa jauh dari hidup kita. Ada speaker di handphone kita yang biasa dipakai untuk telpon dan dengerin notifikasi, dengerin musik lewat earphone atau headphone, mama yang di rumah lagi aerobik lewat youtube dengernya pakai speaker. Dalam KBBI, audio sendiri artinya; Bersifat dapat didengar, dan/atau alat peraga yang sifatnya bisa didengar. Artinya, apapun yang bisa didengar adalah audio, termasuk hati kecilmu yang menangis terisak!

Image

Karena saking pentingnya audio di hidup kita, ada sekelompok orang yang menjadikan ini sebagai hobi bahkan rela mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang nggak sedikit!. Nah, orang-orang yang hobinya audio ini biasanya disebut audiophile. Spesies dari audiophile ini ada banyak, loh! Ada yang fokusnya di car audio, ada yang khusus home audio, banyak juga yang lebih ke portable audio. Cara membedakan audiophile dan pengguna peranti audio biasa ini gampang banget. Salah satunya spesimen ini memakai peranti audio yang jarang banget, bahkan nggak pernah kita lihat dan dengar sama sekali seperti Audeze, Abyss, Hifiman, JH Audio, 64 Audio, Dan Clark Audio, Audioquest, Empire Ears, FitEar, Unique Melody, KZ, CCA, Moondrop Tin HIFI, KBear. Bahkan di Indonesia sudah ada brand yang khusus memanjakan telinga para audiophile khususnya yang portable audio seperti Avara, Omniwave 7th Acoustics, Kanzenoka, Owntha, Van Jan Cook, dan Qlabs.  Pokoknya sangat tidak mass-market!

Audiophile ini sebenernya ngapain saja sih? Tujuannya cuma satu, mendengarkan musik dengan kualitas paling baik. Nah, untuk bisa ngedengerin musik dengan kualitas yang baik butuh peranti audio yang mumpuni dan mampu memproduksi suara jernih berkualitas tinggi.

Lalu apa saja sih yang harus kita punya dan lakukan untuk mendengarkan audio dengan kualitas yang baik? cekidot:

1. Kualitas Musik yang High Resolution

Bukan cuma TV dan monitor aja yang punya istilah ini, tapi di dunia audio juga ada. Menurut Digital Entertainment Group, Consumer Electronics Association, dan The Recording Academy, mendefinisikan bahwa secara formal mendefinisikan audio high resolution yang mampu mereproduksi suara secara lengkap dari sebuah rekaman yang telah diolah dari sumber musik berkualitas lebih daripada CD (compact disk). Dalam kata lain, suara yang dihasilkan harus mendekati dengan kualitas yang diproduksi di studio rekaman, contohnya seperti file musik digital yang berformat minimal FLAC (free lossless audio codec). Kalau di Home Audio Biasanya para audiophile ini pakai kaset, cd, atau vinyl piringan hitam yang dipercaya memiliki tingkat kemiripan suara dengan produksinya di studio yang tinggi.

2. Peranti Audio yang Mumpuni

Image

Image

Image

Hal terpenting pertama adalah alat dengarnya seperti headphone, speaker, atau in ear headphone/monitor. Fungsinya sudah jelas pasti untuk mendengarkan, tapi bedanya dengan peranti sejenis yang biasa adalah mereka mampu mereproduksi suara secara baik, jernih, dan memiliki frekuensi suara yang lengkap tanpa ada hilang satu frekuensi pun dan suara instrumennya terpisah dengan baik tanpa ada kesan menumpuk.

Pernah ngerasain pakai earphone tapi suara treblenya nggak ada? Atau suara earphone bawaan HP lo isi suaranya bass semua? atau speaker yang lo beli saat diskon Harbolnas seharga seratus ribu suaranya cuma bass dan penyanyinya seperti ada di dalam kaca? atau bahkan earphone punya teman lo isinya suara vokal semua dan yang main musik seperti nggak diajak? Kalau iya, hal-hal seperti itu yang biasanya ditemui pada peranti dengar yang dibuat oleh merk mass-market. Umumnya merk yang khusus memproduksi peranti audio resolusi tinggi ini mampu memberikan sensasi yang jauh berbeda dengan yang ada di pasaran secara umumnya, bahkan orang yang bukan audiophile sekalipun langsung bisa membedakan rasanya. Suara bass yang sangat memberikan sensasi pukulan yang panjang tanpa menutupi seluruh suara, bagian vokal yang berbodytebal memberikan sensasi pelafalan jelas dalam nyanyian, treble yang memberikan kesan luas dan detail yang jernih, serta memberikan gambaran jelas posisi-posisi setiap instrumen pada lagu. Atau dengan kata lain jaminan kualitas lah yang diberikan.

Setelah kita memiliki peranti audio yang gacor banget, hal terpenting selanjutnya adalah DAC (digital to analog converter). Sudah barang tentu untuk mendengarkan audio dengan tingkat resolusi yang tinggi dibutuhkan peranti yang mampu memberikan suara yang maksimal seperti headset, speaker, dan headphone produksi massal adalah mereka memfokuskan riset dan pengembangan pada kualitas suara serta memiliki harga yang cenderung lebih mahal. Seperti apa sih maksudnya? misalnya untuk memutar file FLAC tadi, kita membutuhkan sebuah DAC (digital to analog converter) untuk mengkonversi atau menerjemahkan file musik digital tersebut menjadi sebuah suara. Jadi, perannya sangat penting dalam dunia audio. Setiap peranti seperti handphone atau komputer yang kita miliki dan mempunyai sebuah lubang jack pasti memiliki chip DAC sendiri, namun untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita juga membutuhkan DAC tambahan atau eksternal.

Image

Image

Setelah dua barang tersebut, rasanya suara yang dihasilkan masih kurang bertenaga atau bahkan dengan volume maksimal suaranya dirasa masih kecil? Itu artinya lo perlu sebuah amplifier. Sering tertukar dengan ampli gitar karena memang nama dan tugasnya sama yaitu memberikan tenaga yang lebih kepada driver (bagian dalam headphone/earphone/speaker yang menimbulkan suara). Apalagi speaker milik lo adalah tipe passive speaker yang memang membutuhkan amplifier sebagai sumber tenaga. Tugasnya memang sangat simple yaitu memberikan tenaga pada headphone atau speaker tapi mampu membantu menimbulkan performa driver yang maksimal. Nggak mau kan suara speaker lo yang sudah audiophile banget tapi suaranya kalah daripada suara speaker tetangga yang memutar youtube DJ Tiktok Viral 2021 yang lebih kenceng.

Image

3. U A N G

Betul memang jika lo menerka kalau dunia audio ini adalah dunia yang mahal dan perlu mendedikasikan sebagian tabungan untuk menikmati musik yang sangat bagus. Contohnya seperti headphone LCD-X besutan Audeze yang dihargai sekitar $1.190, atau In-Ear Monitor 64 Audio TIA Fourte bisa dibawa pulang hanya dengan $3.599, atau lo lebih suka dengerin musik di rumah bisa pakai Klipsch Forte III dengan $3.458.

Tapi tenang saudara-saudara, nyi dan kisanak, itu semua kalau lo memang sudah sangat terjerumus jauh ke dalam lembah dunia audio yang sangat mencekam. Terima kasih kepada perjanjian ACFTA karena berkat ini kita bisa memiliki peranti audio yang berkualitas sangat baik dan bisa memenuhi hasrat audiophile di dalam diri yang rapuh dan miskin ini. Banyak merk-merk dari negeri tiongkok, atau yang disebut Chi-Fi, memberikan barang berkualitas tinggi dengan harga yang murah.

Contohnya seperti Headphone ber-driver planar biasanya harga pasaran terendahnya adalah sekitar $1.000 sekarang kita bisa memiliki headphone planar dengan harga $140 atau sekitar Rp 1.800.000 dari merk Hifiman seri HE400SE. Suka audio portable? Knowledge Zenith (KZ) punya KZ ZSN PRO dengan harga di bawah Rp. 200.000 saja sudah bisa memberikan suara yang sudah sangat bagus di harganya, tentu saja dengan kualitas audiophile yang entry level. Atau bag lo yang perlu DAC yang bisa dicolok di komputer atau handphone jadi lebih ngirit tanpa beli desktop DAC dan portable DAC, bisa cobain CX PRO Audio dengan chip DAC Conexant CX31993 yang saat ini lagi hype banget di dunia audio portable karena performanya bisa menandingi portable DAC seharga Rp. 1.000.000

Untuk mendapatkan kualitas suara yang bagus memang harus banyak berkorban, korbannya ya jelas saja uang. Tapi apa yang kita bayarkan sudah hampir pasti memuaskan telinga hingga jiwa dan raga.

Jadi, sekarang tidak ada alasan untuk tidak memanjakan diri yang sudah terhantam kerasnya dunia sekarang dengan lantunan musik-musik berkualitas. Menyadur dari jargon salah satu grup audio terbesar di Indonesia, Audio Kere Hore, “lebih baik menyesal karena beli daripada menyesal karena tidak membeli”.

Artikel ini disusun oleh guest writer kita, @prawirast.

18 posts

About author
i praise the lord then break the law
Articles
Related posts
Basic KnowledgeStyle

Menjadi Audiophile Sejati: Kupas Tuntas mengenai Headphone!

Melanjutkan bahasan soal audiophile kemarin, banyak yang nggak percaya kalau pelantang telinga atau Headphone adalah salah satu kebutuhan primer khususnya dalam bekerja…