Basic KnowledgeDenim Related

Belajar Tentang Kain – Edisi 4: Dyeing a.k.a. Pencelupan

Bahasan minggu keempat dari rangkaian rubrik Belajar Tentang Kain adalah dyeing a.k.a. pencelupan. Bagaimana proses lengkapnya dan jenis pencelupan apa saja yang umum digunakan dalam produksi denim? Mari kita bahas.


Overview

Pertama, dyeing menurut bahasa artinya pencelupan. Kenapa dinamakan pencelupan bukan pewarnaan? Karena proses pewarnaan benang ini spesifik dilakukan dengan proses pencelupan agar pewarna meresap ke dalam benang atau produk garmen lainnya.

Pencelupan berpengaruh paling besar terhadap karakter dari denim yang akan dihasilkan, entah itu warna atau fades. Tidak ada ilmu pasti bagaimana cara menghasilkan denim yang paling baik. Jadi, cara yang paling tepat adalah dengan developing dan trial & error. Bahan celup yang paling sering dipakai dalam proses pembuatan denim adalah indigo dari tanaman Indigofera tinctoria, walaupun sekarang sudah banyak dikembangkan dengan pewarna sintetis seperti indigo sintetis dan sulfur.

Proses pencelupan indigo. (img source: karlmayer.com)

Ada banyak metode dyeing pada produksi denim, namun yang paling umum digunakan ada 2:

  • Slasher Dyeing
  • Rope Dyeing

Slasher Dyeing

Proses pewarnaan disebut juga sheet dyeing karena proses pencelupannya dilakukan saat benang dibentangkan seperti sebuah lembaran. Jadi, tidak ada benang yang nenumpuk di antara benang lainnya. Posisi benang rata sehingga proses pewarnaan membutuhkan larutan dye yang lebih sedikit.

Metode slasher dyeing: benang dibentangkan membentuk lembaran. (img source: karlmayer.com)

Ini adalah proses yang akan dilalui oleh benang dalam metode slasher dyeing:

  1. Warping
  2. Pre-treatment: benang akan dicelupkan ke dalam larutan dengan pH 11,8-12 untukmempermudah proses penetrasi indigo.
  3. Washing: dicuci untuk menurunkan suhu benang ke suhu ruangan.
  4. Dyeing: benang akan melalui 4 – 8 kotak dye. Biasanya, waktu pencelupan benang dalam tiap kotak sekitar 10-15 detik dan jarak pencelupan dari kotak ke kotak sekitar 90 detik
  5. Washing: benang kembali dicuci untuk menghilangkan dye yang tidak menempel sempurna ke dalam benang. Metodenya beragam, menggunakan air suhu ruangan sampai dengan suhu 70oC.
  6. Drying: benang dikeringkan dengan udara panas.
  7. Accumulator: benang disimpan ke dalam alat ini agar proses pencelupan dapat berlangsung secara kontinyu / tidak berhenti.
  8. Sizing: benang akan diberikan semacam lapisan tambahan agar benang tidak mudah putus saat ditenun. Lapisan ini biasanya berupa starch yang membuat denim menjadi kaku.
  9. Drying: benang akhirnya dikeringkan lagi dan akan masuk ke proses selanjutnya.

Rope Dyeing

Teknologi rope dyeing diklaim sebagai teknik yang lebih superior dibanding slasher dyeing karena akan menghasilkan benang yang warnanya lebih seragam. Metode ini berasal dari Amerika dan sekarang sudah menyebar hampir ke seluruh dunia. Teknik ini adalah bukti teknologi dalam produksi denim sudah berkembang ke arah yang lebih baik.

Benang akan dibuat menjadi gumpalan seperti tali sebelum proses pencelupan dan diubah menjadi lembaran setelahnya. Pewarna akan meresap ke dalam benang, tapi tidak sampai masuk ke dalam inti benang. Saat benang mulai terkikis karena gesekan, lapisan dalam yang berwarna lebih terang akan terlihat sehingga muncul creases dan fades.

Tidak hanya indigo, sulfur juga bisa ditambahkan ke dalam metode ini untuk menghasilkan warna yang lebih gelap. Ada 2 jenis metodenya, yaitu sulfur bottom dan top. Pada sulfur bottom, benang dicelup ke dalam larutan sulfur dan dilakukan sebelum dicelup ke dalam larutan indigo. Sebaliknya, sulfur bottom berarti mencelupkan benang ke dalam larutan sulfur setelah benang dicelupkan ke dalam larutan indigo.

Metode rope dyeing: benang dibuat menggumpal seperti tali. (img source: uniqlo.com)

Berikut adalah urutan proses rope dyeing setelah melalui proses ball warping:

  1. Pre-treatment: sama seperti dalam metode slasher dyeing, benang akan masuk ke dalam air dengan suhu 90-95oC berisi larutan natrium hidroksida untuk menghilangkan kotoran dan udara di dalam benang.
  2. Hot and cold washing: dicuci menggunakan air dengan suhu 89-90oC kemudian dilanjutkan dengan air suhu ruangan untuk menghilangkan sisa natrium hidroksida di dalam benang agar pH di larutan indigo tetap terjaga di dalam kondisi optimal. Benang akan masuk ke proses selanjutnya pada suhu ruangan.
  3. Dyeing: benang dicelupkan ke dalam larutan indigo yang jumlahnya 8-9 kotak tergantung warna yang diinginkan. Waktu pencelupan biasanya 15-21 detik dengan waktu oksidasi sekitar 60-75 detik.
  4. Washing: benang akan dicuci 4 kali dalam air dengan suhu 60oC (2 kotak), air suhu ruangan (1 kotak), dan air dengan pelembut (1 kotak) untuk menghilangkan sisa pewarna yang tidak meresap sempurna ke dalam benang. Pelembut sangat penting untuk memudahkan saat benang diurai dari bentuk gumpalan tali menjadi bentuk lembaran.
  5. Drying: benang akan masuk ke dalam pengering dan disimpan di dalam tempat berbentuk tong besar.
  6. Long chain beamer: proses beaming kedua untuk mengubah benang dari bentuk gumpalan tali ke dalam bentuk lembaran.
  7. Sizing: benang akan diberikan semacam lapisan tambahan agar benang tidak mudah putus saat ditenun. Lapisan ini biasanya berupa starch yang membuat denim menjadi kaku.
Benang setelah melalui long chain beamer. (img source: faconjacmin.com)

Perbandingan Kedua Metode

Kedua metode di atas mempunya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut adalah beberapa perbedaan di antara keduanya.

PerbandinganSlasher DyeingRope Dyeing
ProsesLebih simpelLebih rumit
WaktuLebih sebentarLebih lama
KualitasBiasanya di bawah rope dyingBiasanya di atas slasher dyeing
Keseragaman warnaLebih burukLebih baik
Fleksibillitas warnaLebih banyakLebih sedikit
HargaLebih murahLebih mahal
LimbahLebih banyakLebih sedikit
Kebutuhan benangMembutuhkan benang dengan kualitas bagusRange kualitas benang yang bisa dipakai lebih besar
Benang dimasukkan ke dalam accumulator. (img source: gimarketplace.com)

Kesimpulannya, setiap metode punya kelebihannya sendiri. Misal, dengan melihat kebutuhan benangnya, denim hasil slasher dyeing punya kualitas benang yang terjaga karena slasher dyeing membutuhan benang dengan kualitas baik. Di sisi lain, denim dengan rope dyeing punya warna yang lebih konsisten dibanding slasher dyeing. Jadi, kalian sudah tidak bingung kan?

Belajar Tentang Kain adalah kolaborasi antara Darahkubiru dan @tentang.kain yang membahas semua serba serbi mengenai kain.

26 posts

About author
Mimin #9
Articles
Related posts
Basic KnowledgeDenim Related

Belajar Tentang Kain - Edisi 6: Singeing a.k.a. Bakar Bulu

Hello! Siapa yang kangen sama rubrik Belajar Tentang Kain? Bahasan kali ini tentang proses pembakaran bulu di denim. Sesuai arti harfiahnya, singeing…
Basic KnowledgeDenim Related

Belajar Tentang Kain - Edisi 5: Weaving a.k.a. Tenun

Sudah baca bahasan kami minggu kemarin? Bahasan minggu ini gak kalah seru pastinya. Di bahasan ini kita akan bahas gimana sih proses…
Basic KnowledgeDenim Related

Belajar Tentang Kain – Edisi 3: Warping

Masih ingat dengan bahasan kita minggu lalu? Minggu ini kita akan bahas warping, seri ketiga dari rangkaian Belajar Tentang Kain. Overview Warping…