Headline, News

Tradisional: Sebuah Nilai yang Perlahan Sirna

June 3, 2016

Setiap masyarakat atau kelompok tentu memiliki keunikan dalam nilai-nilai tradisi dan seni yang berkembang selama berabad-abad dan diturunkan dari generasi ke generasi secara turun temurun.

Konsep tradisional erat kaitannya dengan kata ‘tradisi’ yang berasal dari bahasa latin : traditio yang berarti ‘diteruskan’. Tradisi adalah tindakan dari suatu kelompok orang yang diwujudkan lewat suatu benda atau tindak laku sebagai sebagai unsur kebudayaan yang dituangkan melalui pikiran dan imajinasi serta diteruskan dari satu generasi pada generasi selanjutnya dimana terdapat norma, nilai, harapan, dan cita-cita tanpa ada batas waktu yang membatasi.

Jika ditarik dari perspektif historis, negeri kita begitu nilai-nilai tradisional dengan makna dan filosofi yang mendalam. Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan Batik. Pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus membuat batik menjadi produk seni adiluhung yang mendunia. Diawali oleh kelahirannya sebagai pakaian khusus kalangan keraton, kini batik menjadi komoditas yang memasyarakat dan diperdagangkan secara luas.

Batik tidak hanya mewariskan sebuah karya seni yang hanya dapat dinikmati secara visual saja, jika digali lebih jauh batik juga mewariskan nilai-nilai filosofis yang luhur. Banyak jejak dan makna tersembunyi yang dapat digali dari motif dan warna dalam batik, seperti simbol keteguhan dan kesabaran yang direpresentasikan oleh motif batik parang slobog.

Kini dunia bergerak semakin cepat, mobilitas manusia seolah tak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Kala semua hal menjadi begitu dinamis, maka dengan seketika orentasi proses bergeser menuju orientasi hasil. Pada dunia modern ini, secara sadar ataupun tidak seringkali kita menafikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sebuah proses.

Penetrasi arus modernisasi dan industrialiasi di segala sektor kehidupan manusia membuat nilai-nilai tradisional semakin tergerus seiring berjalannya waktu, salah satunya dalam sektor fashion. Produk-produk fast fashion seolah menjadi sebuah kewajiban tersendiri untuk menghiasi pusat-pusat perbelanjaan, khususnya di kota-kota besar.

Ditengah derasnya gelombang perubahan, ternyata di pelupuk mata kita masih ada yang mencoba untuk mengangkat kembali tradisi-tradisi masa lalu yang terlupakan. Alih-alih meraih apresiasi, tak jarang justru caci yang terlontar. Kerumitan metode dan proses yang bernilai agung seakan tak berarti di mata kebanyakan masyarakat.

“Kok mahal banget sih”

“Yaelah paling berapa sih hpp-nya”

“Buset jaket doang hampir sejuta”

Saya berani bertaruh jika mayoritas telinga para empu brand lokal, khususnya yang berkutat di forum tercinta kita ini sudah hampir kebas jika mendengar ucapan tersebut. Bayangkan effort yang sudah mereka curahkan dan lalui sekian lama untuk belajar, memutar otak dalam proses kreatif, keringat yang menetes ketika mencari raw material, sulitnya membangun relasi dengan rekan bisnis, dan banyak hal lain yang tentu luput dari mata kita sebagai konsumen.

Tanpa perlu menyebut nama brand tertentu, kita dapat melihat beberapa brand lokal yang menjunjung nilai-nilai tradisional baik secara filosofis maupun metode sekarang dapat berdiri megah lewat perjuangan mereka selama bertahun-tahun. Tetapi jika kita tarik ke spektrum yang lebih luas, mereka hanyalah sebuah kerajaan-kerajaan kecil yang tidak terpandang. Sedih rasanya ketika apresiasi yang pantas datang dari negeri nun jauh disana. Pada satu sisi hal tersebut mungkin adalah sebuah kebanggaan tersendiri, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam teriris rasanya ketika tidak diakui di negeri sendiri.

Apresiasi adalah sebuah keharusan untuk individu-individu yang telah terbuka matanya pada keagungan sebuah tradisi dan proses. Lebih jauh lagi di era digital dimana informasi tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, berbagi pengetahuan tentang nilai-nilai tradisional yang terkandung sebuah proses bukanlah hal yang sulit.

Untuk dapat mewujudkan cita-cita dalam mengembalikan nilai-nilai tradisi dan proses ini kembali ke permukaan dan melanglang buana, tentu konsumen tidak dapat berjuang sendiri. Para pihak produsen atau brand lokal juga harus saling menggandengkan tangan agar kebanggaan ini tidak berakhir menjadi sebuah pepesan kosong.

Nilai-nilai tradisional dapat menjadi sesuatu yang indah dan memperkaya hidup manusia dengan memberikan perspektif serta makna yang mendalam. Dalam banyak hal, tradisi dapat merangkum sebuah budaya yang ada pada suatu masyarakat atau individu.

Perubahan dan sesuatu yang baru bukanlah indikator utama dalam mengantarkan manusia kepada hal yang lebih baik dalam hidup. Bagaimana kita mengubah dan memperbaiki cara kita berpikir dalam melihat sesuatu adalah hal yang jauh lebih esensial ketimbang terseret arus perubahan tanpa berbuat apapun selama perjalanan hidup kita.

Sometimes, we don’t need to move forward in order to make progress. Sometimes tough, we need to move backward, re-tracing our steps because we might just have missed something important or not appreciated as much as we should. Sometimes, we just need to stay exactly where we are for a while, and simply admire the view and acknowledge how far we have travelled.

(Jaime Lee-Barron)

 

You Might Also Like

  • Alvin Tjitrowirjo

    Memang sayangnya mentalitas dari mayoritas orang Indonesia adalah untuk menjadi “Follower”, sayangnya mungkin ini adalah satu tradisi yang terbentuk atau di bentuk pada jaman penjajahan, dimana harga diri dan kebanggaan dipatahkan / dikalahkan dan pemahaman bahwa kaum kulit putih atau si penjajah lebih “superior”. Dan sampai hari ini mentalitas tersebut masih tertanam atau mendarah daging di kaum mayoritas. Bule2 selalu dilihat superior daripada sesama, padahal belom tentu. Kenapa harus begitu? Dan gimana caranya untuk merubahnya? Banyak produk2 merk international di produksi di Indonesia, dan banyak brand local yang bisa mendesign dan produksi sebagus merk2 international tsb, namun potensi kebesarannya selalu terhambat dari minimnya apresiasi di negara sendiri. Salah satu penyakit dari syndrom follower adalah ketergantungannya kepada sebuah “role model”. Dan sayangnya role model2 yang ada di Indonesia tidak memiliki nilai kebijakan (wisdom) yang cukup, kurang edukatif, dan kurang nilai moral yang positif ( Agama yang dianut adalah Kapitalisme dan Komersialisme – semua dibuat semerta2 untuk jualan dan keuntungan). Jadi ujung2nya mereka semua tidak menciptakan sebuah ekosistem yang berkelanjutan, dan hasilnya adalah Indonesia menjadi ladang pasar yang dilirik untuk segala jenis produk international.
    Untuk sebuah industry bisa berkembang dan prosper dibutuhkan niat yg baik dan effort dari seluruh stake holder untuk menciptakan sebuah environment sehat untuk para designer berkarya dan para consumer untuk menikatmatinya sepatutnya.
    Tantangan terbesar bagi generasi kita skarang adalah bukan untuk menciptakan produk dengan kualitas international, tapi bagaimana untuk menciptakan “Kebanggaan” dalam menggunakan produk lokal yang ujungnya bisa membuat sebuah rantai ekosistem yang lebih sustainable di jangka panjang. Hal ini membutuhkan lebih dari sebuah produk.

    Semangat!!