Denim Related, Headline, News

Berbicara Sepatu Kulit dengan Sagara Indonesia

June 3, 2016

Dalam membahas produk-produk tradisional yang dibuat di Indonesia, mungkin awalnya kita akan selalu teringat akan kemampuan SDM kita dalam memproduksi sepatu kelas dunia. Banyak brand besar di luar negeri yang mengandalkan kemampuan Indonesia dalam membuat sepatu untuk memproduksi sepatu milik mereka. Di forum darahkubiru sendiri, sudah banyak sekali produsen sepatu yang mulai unjuk gigi dengan brand mereka masing-masing dan salah satu yang masih menjunjung kualitas tinggi dan teknik tradisional dalam memproduksi sepatu adalah Sagara Indonesia. Kita berkesempatan untuk duduk bersama motor dan sosok di balik Sagara Indonesia yaitu Bagus Satrio di kota tempat Bagus memulai dan membesarkan bisnisnya, Bandung.

Darahkubiru (DB): Halo Sagara, untuk refresh lagi buat teman-teman pembaca, boleh ceritakan ke kita lagi, siapa saja orang di balik Sagara saat ini?

Bagus (B): Kalau staff itu sedikit, Cuma gw, Bagus – handle creative & mandor, Yuda – workshop manager, Adit sebagai Part Time handle Social Media, dan istri gw ngurus Finance.

DB: Apa yang bikin kalian tertarik dengan dunia Traditional Bootmaking method?

B: Jadi begini pak, gw kan (lulusan) design product, awalnya gw mau jadi designer otomotif, tapi setelah tahun kedua berjalan gw merasa berat banget untuk serius di industri otomotif. Kebetulan waktu itu temen gw lagi ngambil tugas tentang sepatu, gw nemenin dia ke Cibaduyut dan melihat industri pembuatan sepatu dengan tangan.

Setelah dipikir-pikir, gw tipe orang yang nggak pernah beli barang fashion selain sepatu dan jaket, yang lain selalu dibeliin. Saat itu, gw lagi suka sneaker dan music old school hiphop yang related banget dengan Timberland. Dari situlah awal mula ketertarikan gw dengan dunia boots in general.

Kalo specific hand-welted boots, waktu itu Kemenprin lagi ada program untuk mahasiswa yang bisa membantu pengrajin desain produk, waktu itu gw ditempatkan untuk membantu pengrajin sepatu di Cibaduyut.

DB: Masih ingat nggak awal mula saat kalian develop Sagara, pesan apa sih yang ingin kalian sampaikan ke dunia?

B: Cita-cita gw cuma pengen buat sepatu paling bagus satu Indonesia. Ngasih liat sepatu paling proper buat cowok itu seperti apa.

DB: Bagaimana reaksi masyarakat saat awal-awal kalian memperkenalkan Sagara?

B: Pas awal tidak mudah menyampaikan pesan ke pasar, peran Darahkubiru membantu banget dengan adanya diskusi-diskusi tentang sepatu kulit.

DB: Dulu kita sering lihat ada beberapa koleksi RTW Sagara di beberapa retailer Jakarta. Tapi sekarang sudah tidak terlihat dan kita perhatikan Sagara fokus di MTO, apakah benar?

B: Jadi gini ceritanya, harga bahan baku semakin naik, jadi pilihan gw adalah: naikin harga jual untuk bisa jualan dengan bantuan retailer ATAU gw tetap pertahankan harga dan kualitas tidak turun tetapi tidak bisa share profit ke retailer.

DB: Apa alasannya? Personalisasi?

B: Gw ingin mempertahankan kualitas tanpa harga harus naik. Dan tentunya personalisasi juga salah satu point penting dari MTO, gw ngebayangin kalo gw beli suatu produk dan ada interaksi dengan si pemilik brand itu sendiri, pasti hal tersebut menjadi point plus banget. Makanya gw dulu selalu tanganin langsung customer, tetapi sekarang dengan berjalan waktu dan sudah punya anak, gw harus oper handling order ke orang lain.

DB: Dengan banyak nya detail pada penjualan MTO, mungkin team Sagara seringkali kewalahan sehingga terjadi kesalahan, kalian takut nggak hal ini malah jadi boomerang ke brand anda?

B: Gw aware banget apabila ada masalah di komunikasi dengan customer bisa punya impact yang tidak bagus, tapi gw tidak terlalu mikirin tentang itu. Pendapat gw, apabila gw bikin barang dengan waktu lama tetapi hasilnya memuaskan, in the end juga pasti customer akan senang.

Yang menjadi boomerang sekarang, karena gw tidak ada RTW lagi, hal tersebut jadi bikin customer lupa dengan Sagara. Solusinya, Sagara setiap tahun mengeluarkan exclusive leather seperti; Horween Chromexcel, Japanese Shell Cordovan, French Calf, dan yang lagi kita develop (teaser) European Shell Cordovan. Dengan exclusive leather tersebut, kita akan buat system RTW tetapi dengan system pre-order. Jadi lebih efisien dibandingkan dengan skema MTO.

DB: Sejalannya waktu, Sagara sudah lebih dari 5 tahun – ada nggak perubahan arahan dari brand (baik itu dari segi bisnis maupun segi produk) kalian?

B: Tentunya secara bisnis model berubah dari RTW ke MTO. Arahan design juga saat ini gw mengarah ke dress shoes / boots; stitching lebih rapat, single leather sole. Lebih untuk meluaskan market.

DB: Kenapa kalian berani untuk berubah?

B: Karena gw mulai bosan dengan apa yang dibuat Sagara sekarang dan seiring usia gw bertambah gw pengen punya sepatu yang semakin formal. Dari situ gw berpikir untuk menambahkan fokus lini produk lain, selain yang ada sekarang.

DB: Bagaimana fakta yang kalian terima dengan perubahan yang kalian lakukan?

B: Secara business, MTO bikin cashflow Sagara lebih aman, margin juga masih bagus. Dari segi internal management, dengan team Sagara semakin besar tentunya membantu banget flow business semakin lancer.

DB: Perubahan tentunya nggak mudah, strategi apa yang kalian bangun supaya perubahan bisa berjalan sesuai rencana?

B: Seiring rencana perubahan ke arah dress shoe, Sagara baru rilis Regent Boots yang style nya lebih ke derby shoes dan less rugged. Next nya juga gw akan bikin boots dengan shoe last baru yang lebih formal; waist lebih kecil, trim sole lebih kecil. Strategi transisi bisa dibilang lebih dilakukan berdasarkan dengan perubahan design produk.

DB: Sekarang kan industri kreatif, terutama yang berhubungan dengan Darahkubiru cukup dinamis, bagaimana strategi kalian menyikapi hal tersebut?

B: Gw senang dengan dinamisme perubahan style yg ada sekarang, karena gw pribadi nggak suka style yang gw coba sampaikan dipakai oleh banyak orang, semakin niche semakin bikin gw senang. Dulu gw jijik banget pas sampe artis mainstream aja pake boots.

Impact ke Sagara sendiri, pastinya secara brand awareness makin dikenal, dalam arti kasar harusnya sales Sagara juga semakin tinggi, tetapi kapasitas produksi gw nggak pernah naik, maka dari itulah perubahan tersebut tidak pernah mengganggu kita secara internal. Jadi kita tetap bisa mempertahankan arahan walaupun banyak perubahan terjadi.

DB: Pernah ngalamin stuck dalam berkretifitas selama lebih dari 5 tahun berkarya? Bagaimana cara kalian menanggulangi hal tersebut?

B: Stuck saat gw married dan post-married, 2 tahun terakhir gw sempat terperangkap di zona nyaman sehingga tidak ada gebrakan dari Sagara. Dan stuck tersebut gw tanggulangin dengan go with the flow aja, karena untuk saat ini gw pengen fokus ngurus anak.

DB: Apa koleksi terakhir dari Sagara? Apa yang special dari koleksi tersebut?

B: Inspirasi dari veldtschoen boots nya Inggris jaman dulu, ada V shape di bagian quarter samping sepatu, brand nya dulu namanya Lotus Veldtschoen, sekarang sudah bubar.

Untuk next article masih gw rahasiakan, teasernya; bottom dengan sole lebih tipis, stitching lebih rapat, waist menggunakan bamboo-nail.

DB: Kalau kalian boleh bebas styling satu orang, kalian mau dia pake apa aja?

Alex Komang

Top: Captain Sunshine Pocket

Outer: Mister Freedom Campus Jacket (Natural Vegtan)

Bottom: M-44 Monkey Pocket (WW Attire)

Shoes: PF Flyer All White

Wallet: Voyej Long Wallet

Other Accessories: Pake Dog-Tag

DB: Terakhir, apakah ada pesan untuk brand-brand yang masih baru (di bawah 3 tahun) untuk bisa bertahan di industri ini?

Fokus aja, kalo pelajarin satu hal – pelajarin sampe kelar. Jangan setengah-setengah.

 

Ingin tahu lebih banyak tentang Sagara bisa langsung ke instagramnya atau ke websitenya www.sagaraindonesia.com

You Might Also Like