Featured, Reviews

Lightning Magazine – All About Vintage Denim

January 6, 2011

Kami senang sekali dengan hal-hal yang berbau vintage, tidak terkecuali tentunya vintage denim. Beberapa bulan lalu, Lightning Magazine mengeluarkan sebuah edisi spesial yang kali ini membahas tentang vintage denim dimana sebelumnya Lightning sudah beberapa kali mengeluarkan edisi spesial membahas denim seperti The Denim Book, Denim Buyers Guide dan Denim Indigo Master. Dalam edisi spesial kali ini, Lightning lebih mengetengahkan pembahasan mengenai vintage denim yang menurut kami dalam artian disini adalah denim-denim yang sudah tidak diproduksi lagi sebagai main line dari suatu brand. Seperti yang sudah kita duga, fokus pembahasan akan lebih berat pada brand-brand tua dan sesepuh seperti Lee, Levi’s dan Wrangler.

Cover edisi ini cukup menarik, karena menampilkan sebuah jeans dari Levi’s yang merupakan keluaran tahun 30an awal – tahun 1937 (hint: exposed rivet). Cover ini mengupas anatomi sebuah vintage denim yang memiliki elemen-elemen antara lain cinchback, selvage, suspender button, exposed rivet, crotch rivet, dan lain sebagainya. Memang memakai sebuah Levi’s tahun 33 sebagai sebuah cover adalah pilihan yang tepat karena model ini hampir memiliki semua detail yang sifatnya vintage.

Cover majalah dengan anatomi sebuah vintage jeans

Di halaman awal buku ini, terdapat sosok wajah yang tidak asing lagi. Ternyata Lightning Magazine juga meliput tentang kegiatan berburu vintage denim yang dilakoni oleh Mike Harris, pengarang buku Jeans of The Old West. Halaman awal mengingatkan saya akan isi buku tersebut, dimana ditampilkan banyak foto-foto scraps atau potongan-potongan denim pada akhir 1900an dan juga denim-denim yang sudah benar-benar hancur. Salah satu foto yang paling menarik adalah foto evolusi dan model-model cinchback/buckleback pada era tersebut.

Mike Harris dan hasil buruannya

Komparasi model cinch/buckleback

Seperti yang telah kita ketahui, membahas vintage denim tentu tidak jauh-jauh dari membahas model-model lama dari ketiga brand jeans terbesar di Amerika Serikat, yaitu Levi’s, Lee, dan Wrangler. Pembahasan tentunya diawali dengan pembahasan model-model Levi’s mulai dari Levi’s 501 sebagai main line produksi Levi’s sampai model 201 yang merupakan versi bujet dari 501 (bisa dilihat dari penggunaan bahan yang berbeda dan branding patch menggunakan linen, dimana 501 menggunakan kulit). Model 501 pun dibahas tuntas evolusinya mulai dari model tahun 1901 yang masih tanpa belt loop dan blank selvage sampai ke model tahun 84 yang sudah tidak menggunakan selvage denim lagi.

Pembahasan model-model Levi's. Perhatikan penambahan red tab pada model 37.

Disini kita bisa lihat perkembangan detail model-model Levi’s yang sering terlewat seperti penambahan red tab pada tahun 1937 untuk meyakinkan pembeli bahwa Levi’s asli-lah yang memakai red tab. Jika kita perhatikan, pada awal pemasangan red tab, tulisan LEVIS hanya ada pada satu sisi, sementara sekitar tahun 54, tulisan LEVIS sudah berada pada kedua sisi tab. Tahun 37 memang salah satu tahun yg cukup penting bagi perkembangan model Levi’s 501. Selain penambahan red tab, akhirnya exposed rivet pada kantong belakang juga dihilangkan dan diganti dengan hidden rivet. Selain itu walaupun masih menyandang sebuah buckle back, suspender button pada model ini hilang dan tidak digunakan lagi untuk model-model 501 berikutnya.

Seperti yang sudah kita ketahui pula, bahwa pada awal tahun 40an, ketika perang dunia berlangsung, Levi’s pun ikut andil dalam perang dengan mengurangi penggunaan bahan untuk konstruksi jeansnya. Dari buku ini kita bisa lihat bahwa ada 2 model Levi’s pada saat perang dunia 2. Yang pertama adalah versi awal yaitu tahun 42-43 dimana hal yang menarik adalah tidak ada-nya patch dan red tab. Sementara itu model berikutnya yaitu tahun 44-46, memiliki detail yang lazim pada WW 2 model seperti hilangnya rivet di coin pocket, painted arc, dan doughnut button.

Beberapa orang bilang bahwa model tahun 47 adalah model 501 yang menjadi definisi 5 pocket pants sampai saat ini, 5 kantong, 5 belt loop, sebuah leather patch dan 6 buah rivet yang terlihat. Pada model tahun 66, Levi’s menghentikan pemakaian leather patch pada jeansnya, diganti dengan paper patch yang mudah rusak dan hancur apalagi jika dicuci menggunakan mesin. Pada model ini pula Levi’s mulai menggunakan bartack menggantikan hidden rivet untuk penguat  kantong belakangnya.

Mungkin kita sering mendengar kata-kata Levis Big E dan Small e. Hal ini menyangkut huruf yang digunakan Levi’s di red tab-nya. Semenjak pemasangan red tab, Levi’s selalu menggunakan semua huruf kapital untuk tulisannya. Sementara itu pada tahun 74, mungkin karena alasan branding, tulisan di red tab pun berubah menjadi LeVI’S dengan huruf e yang kecil. Sebuah jeans dengan tab Big E dipandang sebagai sebuah jeans yang vintage dan lebih berharga dibanding small e.

Jika kamu tertarik dengan pembahasan tiap model Levi’s, silahkan cek website Paul Trynka.

Selain jeans, Levi's juga terkenal dengan jacket 506xx-nya

Produk Levi's lainnya

Lee merupakan salah satu pesaing Levi’s pada jamannya. Selain terkenal dengan jacket 101J, stormrider dan Bib Overalnya, Lee juga memiliki model jeans andalannya yaitu Lee 101. Kita bisa lihat di buku ini dimana Lee pada awalnya mengikuti model Levi’s dengan arcuatenya yang sangat mirip. Model yang menarik adalah Lee Cowboy tahun 30an, dimana model ini memiliki 2 buah leather patch di kiri dan kanan. Lee mulai memiliki branding yang kuat setelah pada tahun 40an terkenal dengan Lazy S pada kantong belakangnya. Salah satu model yang paling populer dari Lee adalah model 101z yang diendorse kepada salah satu artis amrik ternama, James Dean. Lee juga terkenal dengan penggunaan LHT dan half-selvage-nya.

Evolusi model Lee 101

Yang juga merupakan produk andalan Lee, jaketnya

Wrangler juga merupakan salah satu brand tertua dan ternama yang masih berdiri sampai sekarang. Salah satu model andalannya adalah Wrangler 11MW. Wrangler tampaknya lebih diasosiakan dengan celana rodeo, bisa kita lihat dari beberapa iklan Wrangler yang dekat hubungannya dan selalu ada unsur Rode0-nya. Selain itu Wrangler sempat masuk menjadi salah satu foto paling iconic, dimana Steve McQueen berpose menggunakan salah satu kemeja denim andalan Wrangler yaitu model 27MW.

Steve McQueen dengan Wrangler

Model Andalan Wrangler 101 MW. Bisa dilihat awalnya arcuate Wrangler juga mengikuti Levi's

Selain membahas ketiga brand tersebut, buku ini juga menampilkan brand-brand workwear yang baik masih ada sampai saat ini seperti Sears & Roebuck (sekarang Sears), Carhartt dan JC Penney (Big Mac) dan juga beberapa brand yang sudah tidak ada lagi seperti Can’t Bust Em dan Boss of The Road yang dibeli oleh Lee dan lainnya seperti Reliance MFG, Sweet Orr, Head Light, JL Stifels and Sons dan Crown.

Seperti kita ketahui pula, denim banyak juga bermanfaat selain untuk pakaian tenaga kerja dan cowboy pada saat itu, juga sering digunakan untuk kepentingan militer. US Navy diketahui banyak memakai bahan denim untuk pakaian para pelautnya seperti untuk sebuah jumper, jacket/cardigan dan juga celana. Bisa kita lihat pada season awal Mister Freedom yang terinspirasi dari pakaian para pelaut US Navy pada periode perang dunia kedua. Legendanya, orang Jepang pertama kali melihat denim ketika militer amrik sering menjatuhkan supply ke tanah jepang, dimana supply tersebut dibungkus bahan denim.

Sears and Roebuck

JC Penney yang terkenal dengan Big Mac workwear-nya

Salah satu usaha bersaing dengan Levi's oleh Montgomery Ward

Eloesser & Heynemaan Co yang membuat Can't Bust Em dan akhirnya dibeli Lee

Reliance MFG Co yang terkenal dengan Big Yank dan cigarette pocketnya

Neustadter Bros yang juga muncul di Jeans of The Old West

Kumpulan iklan vintage yang menarik

Penggunaan Denim di US Military

Buku ini bisa kita sebut sebagai buku porno denim, dimana gambar-gambar yang ditampilkan di buku ini sangatlah menarik untuk dilihat dan dijadikan inspirasi, baik untuk inspirasi sehari-hari maupun jika nantinya ada brand lokal yang ingin terjun ke dunia repro (sangat diharapkan). Pembahasan dan gambar yang ditampilkan cukup jelas untuk kita mengetahui evolusi model-model jeans dari tahun ke tahun dan juga membuka wawasan kita akan brand-brand vintage obskur yang baru kita dengar.

Beberapa hal yang disayangkan adalah karena Lightning merupakan majalah dari Jepang dan sepenuhnya berbahasa Jepang sehingga membuat kita sulit untuk mengerti dan membacanya. Makanya kami bilang bahwa ini bisa disebut sebagai buku porno, cukup lihat gambarnya saja. Selain itu sayangnya yang dibahas pada buku ini hanyalah vintage denim yang benar-benar original ataupun deadstock. Sementara kita bisa lihat banyak juga produk-produk dari luar yang merepro vintage denim seperti halnya Warehouse dan Levis Vintage Clothing. Untuk teman membaca buku ini, kami rekomendasikan juga untuk melihat Jeans of The Old West yang juga berkaitan dengan vintage denim, khususnya early denim pada periode Gold Rush.

PS: Buku ini bisa didapatkan di Kinokuniya terdekat!

You Might Also Like